Processed Food: Musuh atau Teman di Piring Si Kecil?


"Jangan kasih anak processed food, Bun!"

Kalimat ini sering kita dengar di grup WhatsApp orang tua atau di kolom komentar media sosial. Akibatnya, banyak dari kita jadi cemas setiap membuka kemasan makanan. Tapi sebenarnya, apa sih processed food itu? Apakah semua makanan dalam kemasan otomatis buruk?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Apa Itu Processed Food?

Secara sederhana, processed food (pangan olahan) adalah makanan yang sudah mengalami perubahan dari bentuk aslinya. Perubahannya bisa lewat dimasak, dikeringkan, dibekukan, diasinkan, difermentasi, atau dikemas.

Kalau pakai definisi ini, nasi yang kita tanak, tempe, keju, bahkan ASI perah yang dibekukan pun sebenarnya sudah "diproses". Di Indonesia, UU Pangan juga mendefinisikan pangan olahan sebagai makanan atau minuman hasil proses dengan cara tertentu, dengan atau tanpa bahan tambahan.

Jadi, "diproses" bukan berarti "tidak sehat". Yang lebih penting adalah seberapa jauh dan dengan apa makanan itu diproses.

Mengenal 4 Tingkat Pengolahan (Klasifikasi NOVA)

Para ahli gizi di seluruh dunia banyak memakai sistem NOVA, yang membagi makanan ke dalam empat kelompok:

1. Tidak diolah atau diolah minimal. Makanan dalam bentuk alami atau hanya dibersihkan, dipotong, dibekukan, dikeringkan, atau dipasteurisasi tanpa tambahan bahan lain. Contoh: sayur segar, buah, telur, daging segar, beras, susu pasteurisasi.

2. Bahan masak olahan. Bahan yang diekstrak dari makanan alami dan dipakai untuk memasak, bukan dimakan langsung. Contoh: minyak, mentega, gula, garam.

3. Makanan olahan (processed food). Makanan kelompok 1 yang ditambah bahan kelompok 2 (garam, gula, minyak), lalu dimasak, dikeringkan, atau diawetkan dengan cara yang juga bisa dilakukan di dapur rumah. Contoh: keju, roti sederhana, ikan asin, sayur kalengan, dan juga abon.

4. Makanan ultra-proses (ultra-processed food/UPF). Inilah kelompok yang sebenarnya paling banyak disorot. Makanan ini dibuat lewat formulasi industri dengan bahan yang hampir tidak pernah kita pakai di dapur. Contoh: mi instan, sosis, nugget, minuman bersoda, biskuit dan sereal manis, camilan kemasan berperisa.

Kriteria: Kapan Sebuah Produk Masuk Kategori Processed atau Ultra-Processed?

Berikut beberapa hal yang bisa Bunda cek:

Masuk kategori processed food jika:

  • Bahan dasarnya masih makanan utuh yang bisa dikenali (daging, ikan, sayur, susu).
  • Ada tambahan garam, gula, atau minyak.
  • Proses pembuatannya bisa dilakukan di rumah, misalnya direbus, digoreng, dikeringkan, atau diasinkan.
  • Tujuan pengolahannya adalah agar lebih awet atau lebih enak.

Bergeser ke ultra-processed jika terdapat:

  • Bahan yang tidak ada di dapur rumah, seperti protein terhidrolisis, pati termodifikasi, sirup fruktosa, atau minyak terhidrogenasi.
  • Bahan tambahan "kosmetik" yang tujuannya membuat makanan lebih menarik, seperti perisa (flavour), penguat rasa (MSG dan sejenisnya), pewarna, pemanis buatan, pengemulsi, dan pengental.
  • Daftar komposisi yang panjang dan sulit dibaca.
  • Bahan makanan utuh hanya sedikit, atau bahkan tidak ada.

Tips praktis: baca daftar komposisi di label. Kalau isinya bahan-bahan yang Bunda kenal dan bisa Bunda temukan di dapur sendiri, kemungkinan besar produk itu processed biasa, bukan ultra-processed.

Mengapa Ini Penting untuk Anak?

Penelitian menunjukkan konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi berkaitan dengan risiko obesitas dan pola makan yang kurang bergizi. Makanan jenis ini cenderung tinggi gula, garam, dan lemak, tapi rendah serat dan zat gizi. Rasanya juga dirancang sangat "nagih", sehingga bisa membentuk preferensi rasa anak sejak dini.

Sebaliknya, makanan olahan kelompok 3 bisa sangat membantu. Makanan ini praktis, awet, dan tetap bergizi, terutama bagi orang tua yang sibuk.

Satu hal yang tetap perlu diperhatikan untuk bayi: WHO dan IDAI menganjurkan tidak menambahkan garam dan gula pada MPASI bayi di bawah 1 tahun. Jadi untuk produk apa pun, cek juga kandungan natrium dan gulanya di label.

Kesimpulan

Tidak semua processed food itu jahat. Yang perlu kita batasi adalah makanan ultra-processed, sementara makanan olahan sederhana dengan bahan yang jelas justru bisa menjadi teman yang membantu Bunda menyiapkan makanan bergizi dengan lebih praktis.

Kuncinya satu: biasakan membaca label. Kenali bahannya, cek kandungan garam dan gulanya, lalu pilih yang paling sesuai dengan usia dan kebutuhan si kecil.

Tetap utamakan variasi makanan segar di rumah, dan gunakan produk olahan yang baik sebagai pelengkap, bukan pengganti.

Punya pertanyaan seputar MPASI? Tulis di kolom komentar, ya, Bun!



Komentar

Entri Populer

Balance Bike atau Sepeda Roda Bantu? Cerita di Balik Anak Belajar Naik Sepeda

Sepeda Anak WIMCYCLE BARBIE 16 Inci