Banyak dari kita belajar naik sepeda dengan cara yang sama. Sepeda kecil dengan dua roda bantu, dipakai berbulan-bulan, lalu suatu sore roda bantunya dicopot. Orang tua memegangi sadel dari belakang, berlari sambil ngos-ngosan, lalu diam-diam melepas pegangan. Ada yang langsung lancar, ada juga yang berakhir dengan lutut lecet dan sedikit trauma.
Sekarang ada pilihan lain yang makin sering kita lihat di taman dan komplek perumahan: balance bike, sepeda kecil tanpa pedal yang didorong pakai kaki. Jadi sebenarnya mana yang lebih pas untuk si kecil? Jawabannya ternyata lebih menarik kalau kita lihat dulu apa saja yang sebenarnya dipelajari anak saat naik sepeda.
Naik sepeda itu sebenarnya tiga keterampilan sekaligus
Kalau diurai, naik sepeda terdiri dari tiga kemampuan yang berbeda. Pertama, keseimbangan, yaitu menjaga badan dan sepeda tetap tegak saat bergerak. Kedua, mengarahkan setang supaya sepeda belok ke tempat yang diinginkan. Ketiga, mengayuh pedal secara ritmis sambil tetap melakukan dua hal tadi.
Dari ketiganya, keseimbangan adalah yang paling sulit dan paling menentukan. Mengayuh itu relatif gampang dipelajari, bahkan anak kecil bisa mengayuh sepeda roda tiga dengan cepat. Tapi menyeimbangkan badan di atas dua roda butuh "rasa" yang hanya muncul lewat pengalaman.
Di sinilah dua jenis sepeda ini mengambil jalan yang berlawanan.









































